Selasa, 07 Agustus 2012

Part 2


Jika perpisahan menciptakan haru, kuharap kita masih bisa bertemu :’)
Jika harus ada dunia baru, aku berharap kau tak melupakanku :’)
(LoVe)
“Dia mau ngajak aku kemana sih sebenernya ?.” Gumam ku dalam hati.  Konsep 5 W 1 H itu terus bersarang dalam otakku.  Karna semenjak aku menemuinya, dia tak berbicara sepatah katapun.  Hanya terus berjalan menggandeng tas punggung berwarna merahnya dan memintaku mengikutinya.
            Wajah itu terlihat berbeda dari biasanya.  Entah apa yang ada difikirannya.  Aku sendiripun bingung dan beberapa kali ingin bertanya, mau kemana kita sebenarnya.  Namun ku urungkan kembali niatku karna terlalu sibuk berjalan dengan pakaian seperti ini.
            Denis Azkasello.  Nama yang indah bukan.  Nama panggilannya pun bervariasi.   Denis, Azka ataupun Sel.  Tapi aku biasa memanggilnya Ello.  Karna menurutku itu lebih mudah.  Aku mengenalnya cukup lama.  Semenjak duduk di bangku sekolah menengah kejuruan.  Kamipun cukup akrab bahkan tak jarang orang menilai kami menjalin suatu hubungan khusus.  Padahal kami hanya berteman.  Karna ku sadar kami sudah memiliki pasangan masing-masing.  Aku sudah bersama Abi.  Dan Ello dengan Arfi.
            Tak lama kemudian kamipun tiba disuatu tempat.  Ternyata Ello mengajakku kebelakang sekolah entah untuk apa.  Wajahnya terlihat sangat serius seperti ingin mengungkapkan sesuatu.
            Udara saat itu terasa sangat sejuk.  Cukup bersahabat.  Dengan pemandangan hamparan sawah yang begitu hijau yang sangat menyita perhatianku.  Mataharipun bersinar secukupnya.  Dan yang paling asyik adalah semilir angin mewarnai pertemuan kami.
“Kamu nggak keberatan kan aku ajak kesini ?.” Ello mulai membuka mulutnya yang terkunci sejak tadi.  Nada bicaranya terdengar lirih.  Matanya menatapku tak berkedip.
“Hmm.. nggak.  Kok serius amet kayaknya.  Emang ada apa sih ?.” Jawabku biasa saja.
“Duduk.” Suara ngebas ello yang tiba-tiba mengajakku duduk di bawah rindang pohon yang entah namanya apa.  Pohon itu terlihat cukup besar, rindang, dan sejuk.
            Aku dan dia.  Duduk dibawah pohon itu.  Moment ini sudah lama tak kurasakan. Sejak kami menjauh, hampir tak ada komunikasi diantara kami.  Dulu memang sempat dekat.  Tapi karna ada suatu masalah yang enggan untuk kami selesaikan.  Ello memang keras kepala.  Egonya tinggi.  Itu yang membuatku kesal.
“Lo...” , “Ve...” Ucap kami bersamaan.  Seperti pada filem-filem yang kulihat di layar kaca. Tapi sungguh itu tak disengaja.
“Aku minta maaf.” Kalimat singkat ello melanjutkan. Hening. Tatapannya kosong kedepan seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Udah lama gue maafin.  Gue juga minta maaf.  Terus ?.” Aku berharap ada yang lain yang akan diucapkannya sebelum kami benar-benar berpisah.
“Ada spidol ?.” Tanya ello sambil mengulurkan tangannya kepadaku.  Akupun segera mengecek tasku.  Rasanya aku membawanya.  Spidol sisa coret-coret seragam kelulusan kemarin.
            Ello bergegas mengambil sepidolnya dari tanganku dan menuliskan sesuatu di tembok itu.  Tembok belakang ruang kelas bercat hijau yang tak jauh dari pohon.  Aku tetap duduk tanpa tau apa yang sedang ditulis ello di tembok itu.  Anginnya membuat ku nyaman ditempat itu.
            Aku telah sampai dipenghujung masa remajaku.  Masa-masa manis bersama teman-teman dan orang-orang terdekatku di sekolah.  Masa yang pertama kali membawaku kedalam khayalan dan angan.  Sampai suatu ketika aku merasakan sesuatu berbeda dalam hidupku. Aku mulai merasa malu untuk pergi kesekolah tanpa polesan bedak.  Tanpa parfum dan embel-embelnya.  Perubahan itu terjadi.  Padahal dulu aku biasa tampil tanpa itu semua. Senyuman kecil selalu terbit ketika aku mengenang kembali masa-masa manis itu.
            Berawal dari putih biru yang berganti dengan putih abu.  Kehidupan baru sebagai anak SMA atau si ababil alias ABG Labil.  Sulit untuk mendeskripsikan arti remaja.  Apalagi Cinta Pertama.  Rasanya aneh.  Mulai mencari jati diri ditengah perkembangan zaman yang cukup mengerikan.  Aku menjalaninya.  Masa Orientasi Siswa. Waktu itu berlangsung selama tiga hari.  Sangat melelahkan dan menguras hati.  Kakak-kakak senior yang super duper galak tanpa senyuman.  Itu yang khas.  Dengan dandanan super aneh pula. Semuanya menghiasi Masa Orientasi Siswa itu.  Ku ingat dulu, dengan kunciran rambut dua dipinggir kiri dan kanan seperti gadis desa, rok biru sedengkul, dan kemeja seragam putih pendek lengkap dengan bet asal sekolah topi dan dasi.  Dandanan ala anak SMP yang masih melekat saat pertama memasuki gerbang sekolah baruku.
            Hukuman-hukuman tak luput mewarnai masa MOS.  Moment itu yang paling kuingat hingga saat ini.  Rasanya senang sekali masa itu berakhir.  Berganti dengan suasana belajar anak SMA pada umumnya.  Aku mulai disibukkan dengan setumpuk tugas.  Matematika adalan pelajaran yang paling aku tidak suka.  Entah mengapa aku sulit sekali menerima pelajaran itu dalam otakku.  Pernah suatu ketika aku tertidur selama pelajaran Pak Asa berlangsung.  Untunglah dia guru yang baik dan cukup sabar.  Huft...  aku tersenyum kembali.
“Ve !!!.” Teriak ello yang ketiga kalinya padaku.  Rupanya aku melamun cukup lama sehingga tak menghiraukan panggilan itu.
“Sorry, sorry. Apa ?.” Akhirnya aku tersadar dalam lamunan itu. Segera aku beranjak mendekati ello yang daritadi memanggilku.
Denis Azkasello  – Artria Venusa
ELO – VEnus (LoVe) 19-05-12
Jika perpisahan menciptakan haru, kuharap kita masih bisa bertemu :’) ... “Ello”
Tertegun ku melihat tulisan yang rupanya daritadi dibuat Ello.  Tulisan singkat tetapi penuh arti. “Hmm.. kenapa bisa pas sekali yak ? namaku dan Ello.  Disingkat jadi “Love” ? huh, mungkin hanya kebetulan.  Yaa.. kebetulan yang memiliki arti. Tapi apa ?.” Gumamku dalam hati memandangi tulisan ditembok itu.
“Heiy, ko bengong ? Mau nulis juga ?.” Lagi-lagi dia mengagetkanku.  Ello menawariku untuk menulis juga sambil menyerahkan sepidolnya padaku.  Entah apa maksudnya menulis seperti ini.  Apa dia juga memiliki sesuatu yang sama denganku.  Arghh... bicara apa aku ini. Dia hanyalah temanku, sahabat karibku.  Jadi rasanya tak mungkin sekali.
Jika harus ada dunia baru, aku berharap kau tak melupakanku :’) ... “Venus”
            Ello tersenyum menatapku.  Akupun membalas senyumannya.  Sebentar lagi kisah ini berakhir.  Seiring dengan berakhir pula masa putih abu.  Sampai kapan tulisan itu ada. Mungkin ketika catnya diganti, tulisannya akan hilang.  Tapi moment ini tak pernah hilang dalam otakku.
Aku tak tau entah sejak kapan ada ruang kosong yang ditempati ello di hatiku. Mungkin karna kami sering bertemu dan kerap kali terlibat kerjasama.  Lebih dari tiga bulan rasanya kami bertengkar dan menjauh seperti ini.  Baru hari ini kulihat kembali senyuman diwajahnya.  Tingkahnya suka berubah kadang-kadang.  Itu yang membuatku heran.  Ada orang seperti ini.  Orang yang aneh.  Tapi itulah Ello.
“Ve, hmm... makasih yak udah jadi temen gue.  Gue... gue ngerasa beruntung punya patner kayak loe.  Loe baik. Care.” Suara ello mulai terbata-bata.
“Loe kenapa el ?.” Tanyaku heran melihat matanya yang berkaca-kaca.  Sungguh baru kali ini ku melihat wajahnya sekusut ini.
“Boleh gue peluk loe ? Bentarrr ajaaaaa.” Ello memohon dengan tampang seakan-akan kami akan berpisah jauh.
            Tanpa basa-basi akupun mengangguk sebagai jawabannya.  Pelukan itu terasa nyaman sekali.  Pertama kalinya ada seorang laki-laki memelukku dengan erat sekali.  Tiba-tiba terasa ada yang menetes dipundak kiri dan kananku.  Ku sadari itu memang air mata Ello yang mengalir deras hingga mengenai pundakku.  Sepertinya ada yang ingin diungkapkan tapi tak terungkapkan.  Pelukan itu berakhir dengan sebuah kecupan yang mendarat di keningku. Ello memang cengeng. Dan gara-gara dia, aku jadi tertular. Hmm.. (ngeles :-P )

Dear Tuhanku Yang Maha Penyayang, it’s me.
Hari ini semuanya mungkin berakhir. Tapi aku tak pernah menyesali itu. Jika harus dengan seperti ini, aku lega. Aku lega meninggalkannya dengan pelukan itu. Kami sudah berdamai. Setelah sekian lama api permusuhan itu akhirnya padam. Entah apa yang aku rasakan saat ini. Rasanya ingin kuhapus segala bayangnya. Karna ku tahu, aku punya Abi. Aku tahu, saat ini, itulah satu-satunya pilihanku. Karna akupun tak pernah tau isi hatinya untukku. Yang ku tahu, dia baik. Tapi.... arghh sudahlah, biarkan cerita ini menjadi abadi tanpa harus memiliki.
Sweet Dreamss , satnight :’)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar