Selasa, 07 Agustus 2012

Part 3


Aku sangat menyukai travelling. Kemanapun tempatnya yang penting asik, dan aku belum pernah mendatanginya. Ku ingat pertama kalinya saat itu kelas satu semester dua di bangku SMK. Curug Cipancar menjadi tujuannya. Curug dalam bahasa indonesia berarti air terjun. Hanya saja itu diambil dari bahasa setempat. Udaranya sejuk dan tempaynya juga bagus. Banyak yang kesana bersama keluarga bahkan tak banyak yang hanya berdua dengan pasangannya.
Perjalanan kesana hanya memakan waktu sekitar tiga jam dari tempat tinggal ku. Didaerah Wanayasa Subang memang terdapat beberapa curug, dan salah satunya adalah Curug Cipancar. Meskipun jalan menuju kesana terjal dan berbatu, namun tempatnya cukup ramai dikunjungi orang terutama dihari libur. Pemandangan sekitar masih asri dan hijau. Kebun teh terhampar kiri dan kanan sepanjang jalan. Suara binatang yang khas dan percikan air yang menyegarkan telinga. Sangat cocok untuk orang-orang pecinta alam. Dan tak jarang banyak orang yang memilih tempat itu untuk dijadikan sebagai lokasi Camping.
Yang aku ingat waktu itu aku pergi kesana memang untuk berlibur bersama teman-teman dekatku. Kurang lebih tujuh motor. Minggu pagi kami berencana berkumpul dirumah rara.
“Wouyy udah jam segini ? kita mau berangkat jam berapa ? si Riri manaaa lagi ?.” Sewot Kikky sebal. Memang sih kami berencana berangkat jam delapan pagi. Tapi sudah jam setengah sepuluh lewat Riri belum juga datang. Dia memang kerap kali seperti ini. Julukan Mrs. Telat memang sudah menjadi predikatnya sejak lama. Karena kebiasaan buruknya itu yang membuat kesan itu ada. Yaa.. satu kelas mungkin belum mengetahuinya, tapi kami sahabatnya sudah sangat hapal seluruh alasan Riri ketika dia datang telat. Riri..Riri..
Sepuluh menit kemudian, Riripun datang dengan tampang cengengesan khasnya. Tampang cengar-cengir sambil bilang “Hehe.. maaf yak telat. Tadi tuh gue kesiangan, udah gitu nyokap gue lagi nggak ada dirumah. Adik gue minta dianterin ke tempat lesnya..dan bla..bla..blaaa.” Seperti sedang mengarang waktu pelajaran B. Indonesia.
“Riri ... Stop !!!. Udah, kita ngerti jadi stop alesannya. Okey Mrs. Telat ? Yuk siap-siap berangkat.” Ucapku setengah kesal kepada Riri. Bukan hanya aku, bahkan yang lainpun ikut sebal dibuatnya.
Kami tiba ditempat tujuan sekitar pukul satu siang. Sungguh perjalanan yang melelahkan. Matahari memancarkan sinarnya lebih panas dari biasanya. Tapi untunglah udara disana cukup sejuk sehingga mengalahkan terik mataharinya. Aku dibonceng Rio dengan mio birunya yang sungguh mengkilap. Itu memang kebiasaannya. Bisa dibilang si mio adalah pacar pertamanya. Bagaimana tidak, hampir setiap hari kulihat motor itu tak ada noda sedikitpun. Bahkan saat musim hujan saja, dia rela tidak membawa motornya kesekolah seperti biasanya hanya karna satu alasan “Sayang, baru dicuci”. Haduuhhhh gubrak deh. Tak jarang aku sengaja membuatnya kesal karna telah mengotori si mio. Lalu aku tertawa terbahak-bahak melihat wajahnya yang terlihat sangat kesal.
Cukup membuat bokong pegal dan panas. Karena perjalanan yang lumayan pula. Melewati beberapa kecamatan dan desa-desa perkampungan penduduk. Masih sepi dari jangkauan truk-truk dan mobil-mobil besar lainnya. Jalannya berbelok-belok dan sangat terjal. Rawan tanah longsor dan pohon tumbang. Tapi aku dan yang lain sangat menikmati perjalanan itu. Bernyanyi-nyanyi seperti anak TK menjadi tradisi sepanjang jalan.
Terdengar gemercik air yang daritadi sudah menjadi sasaran utama kami. Setelah beristirahat sejenak, akhirnya Byurrrrrrrrrrrrrr, terjadilah adegan saling siram. Sungguh mengasyikan. Membuat lupa setiap masalah-masalah yang menumpuk diotak selama ini. Kami bebas berteriak tanpa ada yang melarang. Menghilangkan penat selama ini. Memang itu tujuan utamanya.
“Wouyy guys, foto yaaak.. oke !!!.” Seperti biasanya Kikkypun tak lupa mengabadikan moment ini. Soal foto memfoto yaa dia ahlinya. Kikky memang terkenal dengan Mrs. Kamera. Layaknya Riri. Kami memang memiliki julukan masing-masing.
“1....2....3.. cheerrssss !.” Gerakannya sudah seperti fotografer handal. Kikky memang jago dalam hal ini. Fotonya saja tersebar diseluruh telefon genggam anak-anak sekelas. Siapa coba yang nggak punya foto dia.
Bayangkan saja, kurang lebih empat jam saja kami menghabiskan waktu disana. Tetapi hampir lebih dari dua ratus foto yang sudah tercipta. Yaa.. sepertinya ini efek karna mengajak Kikky. Hingga memori handphone menunjukan “full”. Setelah itu kami tertawa geli. Sungguh inilah moment berharga yang selalu terkenang dihatiku.
Berenang di bawah air terjun, makan siang ditengah-tengah kebun teh, dan berpose bersama mereka sahabat-sahabatku merupakan kenangan indah yang selalu terekam jelas dalam benakku. Meskipun pergi kesana tidak bersama dengan orang yang ku sayang, namun ini tak kalah serunya. Aku pernah berharap bahwa suatu saat nanti, aku bisa pergi ketempat seindah ini bersama orang yang special untukku. Meskipun mitosnya , kalau kita pergi kesini bersama pasangan kita, beberapa waktui kemudian hubungan itu pasti berakhir. Tapi tetap saja, impian itu ada dan selalu berkobar kerap kali ketika aku mengunjungi tempatnya.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Berhubung cuaca disana hampir sepanjang hari sama. Mendung-mendung nggak jelas. Kami hampir tak bisa membedakan pukul berapa sekarang.
“Pulang yuk akh, udah sore nih. Bisa-bisa kemaleman sampe rumah ?.” Ajah Chaca dengan wajah yang terlihat sangat lelah. Tak hanya Chaca, sepertinya yang lainpun begitu.
Udara dingin membuat kami lapar. Tapi berhubung dompet sudah terkuras untuk biaya bensin , makan, de..el..el.. Terpaksa kami menahannya sampai dirumah.
“Ko mendung yah ? kayak mau ujan ?.” Ucapku dalam hati sambil mengadah kelangit yang terlihat sudah gelap.
“Yo, mau hujan nih kayaknya. Kalau hujan gimana ?.” Tanyaku cemas.
“kalau hujan yaa basah. Lagian hujan kan air. Loe takut ? Pegangan mangkanya ! hahaaha.” Jawab Rio meledek. Diapun tertawa geli melihat cemasku.
“Yeeee.. bilang aja loe pengen dipeluk, huuuu !.” Ucapku sebal sambil menjedugkan lembut kepala Rio .
“Kalau iyak kenapa ? Nggak sopan loe mainnya kepala. Udah difitrah nih. Dasarr.. yaudah sih kalau mau meluk mah meluk ajah. Dosa mah ntar. Haha, lagian dingin kan loe ?.” Ledek Rio dengan nada bicaranya yang khas. Kata-kata Rio memang ada benarnya sih, tapi. Arghh... nggak. Apaan sih nggak penting juga.
Benar saja dugaanku. Satu persatu butiran air turun dari awan gelap itu. Riopun segera tancap gas lebih cepat. Namun frekuensi hujannya semakin sering dan banyak membuat kami kewalahan dan Rio memperlambat kemudinya. Ditambah lagi lintasan jalan yang sangat terjal menjadi sangat berbahaya apabila kami nekat melanjutkan perjalanan. Karena hujan yang mengguyur ini, kami akhirnya terpencar.  Aku dan Rio memilih berteduh terlebih dahulu disebuah warung beberapa kilometer dari Curug. Tepatnya didaerah Pesawahan.
From : Riri
. ve, loe sama rio brteduh dmnaa ? ggue sama yg len brteduh breng, cumaa loe yg mncarr ..
Satu pesan singkat dari Riri yang terlihat khawatir.
Replay To : Riri
iyak, gue gpp ko. Di daerah pesawahan nii. Yaudah yak hp gue lowbet. Kalian jgn khwatir.
Balasku segera karna batre handphoneku sudah tidak bersahabat. Setelah beberapa menit kemudian,  frekuensi hujanpun berkurang. Tidak reda tetapi hanya gerimis kecil saja.
“Udah jam segini, lanjut ajah yuk yo ? Gue takut diomelin.” Ajakku pulang meskipun gerimisnya belum reda. Waktu menunjukan pukul setengah enam.
“Yakin ? Kalau loe kedinginan, peluk ajah deh gpp kali.” Goda Rio sambil mengedipkan matanya seperti playboy-playboy di televisi. Gaya cengar-cengir dan lirikan khasnya yang membuatku teringat selalu pada temanku yang satu ini.
“Ih apaan sih loe, saat kayak gini. Massssiiiihh aja bercanda. Udah yuk cabut.” Ajakku sekali lagi dengan memukul punggungnya.
“Aw..aww..aw.. ih gila loe, kuli dasar. Iyak hayu buru naik.” Teriakan Rio kesakitan. Mukanya tampak kesal setelah ku pukuli pundaknya tadi. Habis badannya yang rada big itu kerap kali membuat ku gemas. Tak jarang aku tertawa sendiri ketika dibonceng dengannya.
Akhirnya kamipun melanjutkan perjalanan pulang dibawah rintikan hujan yang tersisa. Meskipun belum berhenti membasahi. Semuanya basah. Untung saja aku tidak memakai pakaian berwarna putih. Bisa-bisa transparan karna basah. Kami terus berjalan. Udaranya memang sangat dingin. Tangan dan sekujur tubuh ini mulai memutih dan berkeriput. Aliran darah terasa berhenti. Terlihat tangan Rio yang bergetar menancap gas, dengan gretakan gigi yang beradu karna kedinginan. Tetapi untunglah tidak ada hal-hal yang tidak diinginkan. Kamipun tiba dirumah masing-masing dengan keadaan selamat.
Sesampainya dirumah. Mamah dan Ayah sudah menyambutku didepan pintu dengan tampang lebih seram dari drakula. Aku tau mereka sangat khawatir karna anak gadisnya baru pulang menjelang pukul setengah delapan malam.
“Yo, makasih yak. Udah sanah gih pulang. Ntar kena semprot. Cepetttt..” Ucapku pelan. Akhirnya Riopun pulang.
“Maaf mah, tadi hujan. Lalu kami berteduh. Jadi pulangnya kemaleman.” Akupun segera meminta maaf kepada mereka dengan wajah bersalah. Ku akui ini memang salahku dan aku juga tau kemarahan mereka adalah bentuk kasih sayang yang tercurahkan untukku.
“Lain kali kasih kabar, jangan bikin orang rumah cemas ! paham ?.” Ucap mamah dengan nada tinggi. Matanya melotot hampir seperti ingin keluar.
“Kakak harusnya tau gimana khawatirnya mamah dengan ayah disini. Hujan. Kakak belum ada dirumah. Kalau ada apa-apa ? Siapa yang bertanggung jawab ? tambah ayah melengkapi mamah.
            Aku hanya bisa menunduk dan mendengarkan amarah mereka tanpa bisa meredamnya. Setelah beberapa lama, akhirnya mamahpun menyuruhku untuk makan. Memang itulah kebiasaan unik mereka. Setelah bosan memarahiku, akhirnya mereka malah menyuruhku untuk makan. Kadang aku tertawa dalam hati melihat hal itu.
Hari ini memang hari yang sangat berkesan. Tak lupa aku mengabadikan moment ini kedalam buku diary pink, hadiah ulang tahun dari Rizkia. Begitulah kebiasanku. Well.. semua orang yang dekat denganku mengetahui hal itu.

Dear Tuhanku Yang Maha Pemurah, it’s me.
Moment travelling pertamaku begitu mengesankan. Aku dan mereka mengunjungi curug itu. Tempat pertama yang sangat memakan waktu lama karna letaknya lumayan jauh. Dan Rio ...  teman sekelasku yang begitu konyol. Dia baik .. hmm apa yaaa ? Ya gitu deh. Sepanjang jalan ada saja ulahnya yang membuatku tertawa. Dia asik. Bisa jadi patner travelling yang menyenangkan. Terimakasih Ya Allah, satu lagi penciptaanmu sungguh hebat. Kali ini namanya ‘sahabat’ :’)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar